Rabu, 15 Desember 2010

Benteng Pendem






Oleh: Hendri Utomo (Alumnus Ilmu Sejarah UNY)
Benteng Pendem terletak di Desa Kalimaro, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Benteng tersebut menyimpan sejarah eksistensi Jepang di Kabupaten Purworejo. Dari ranah historis, awal mula pendirian Benteng Pendem tepatnya setelah Jepang resmi menyusun kekuatan di semua negara jajahannya, termasuk Indonesia, pada 7 Maret 1942.
Sistem yang diterapkan Jepang untuk memperkuat pertahanan di negara koloninya yaitu dengan cara menguasai Buttai (Batalion dalam istilah Jepang, Red) di setiap titik-titik yang dianggap strategis. Tangsi Belanda di Purworejo akhirnya tak luput dari target penguasaan Jepang.
Setelah menguasai tangsi, Jepang mengembangkan sistem pertahananya dengan membuat benteng-benteng pertahanan untuk menangkal serangan musuh baik dari laut maupun udara. Upaya itu akhirnya direalisasikan.
Jepang segera mengutus 15 orang Heiho untuk menyelidiki perbukitan di daerah Kalimaro, Kecamatan Bagelen, Purworejo. Letaknya terbukti cukup strategis yakni di atas perbukitan dengan jangkauan pandangan cukup jelas ke laut lepas Samudera Hindia. Jepang akhirnya memantapkan diri untuk segera membuat sebuah benteng pertahanan di daerah tersebut.
Sekitar 15 orang Heiho melakukan Ormed (Orientasi Medan). Lima belas utusan berpencar, tujuh orang ke Kalimaro melewati Dusun Bapangsari dengan rute menyusur gunung Buthak. Sementara 8 orang serdadu Jepang lainnya berangkat menyusur dari arah Stasiun Wojo dan melewati Watukandang hingga sampai ke Kalimaro.
Orientasi cukup berhasil dan 15 utusan tersebut pulang melewati Desa Tlogokotes yang saat itu masih tergabung dengan Desa Somorejo. Rencana pembangunan benteng berlanjut, beberapa hari kemudian Jepang mendatangi Desa Tlogokotes, kemudian mengumpulkan perangkat desa dengan tujuan meminta bantuan. Akhirnya dikumpulkanlah para Kucho (Kepala Desa) dan Kucho yang berhasil dikumpulkan yaitu Partodiwiryo (Kucho Somorejo), Somodiharjo (Kucho Bapangsari) dan R. Cokro (Kucho Dadirejo). Ketiganya kemudian dimintai bantuan.
Dalam pertemuan itu Jepang meminta tanah warga seluas 500 hektar yang terdiri dari 135 hektar tanah di Desa Tlogokotes, 197 hektar tanah di Desa Bapangsari dan 174 hektar tanah di Desa Dadirejo.
Tidak hanya cukup dengan merampas, Jepang juga meminta kepada para Kucho untuk menyediakan peralatan serta tenaga manusia guna pembangunan. Keinginan Jepang terpenuhi, masing-masing desa akhirnya sanggup menyediakan sekitar 200 orang pekerja. Para pekerja tersebut diupah sesuai jabatannya. Pekerja kuli dibayar 25 sen, tukang 50 sen, mandor 75 sen dan kepala mandor mendapatkan 1 rupiah.
Dengan tenaga yang diperoleh dari tiga desa tersebut, ternyata Jepang masih kekurangan tenaga, akhirnya mendatangkan romusha (pekerja paksa) dari luar daerah. Nasib mereka lebih tragis, mereka dipaksa terus bekerja dan tidak dibayar.
Proses pembangunan Benteng Pendem dikerjakan secara bertahap. Tahap awal, Jepang membuat jalan sepanjang 4 km dari jalan raya Desa Krendetan. Jalan itu dibuka dengan cara memerintah para pekerja untuk menebangi pohon kelapa, sementara batang pohon itu dibelah menjadi dua dan ditata sebagai alas jalan. Warga setempat pada waktu itu lebih akrab mengenalnya dengan jalan Palori Glugu.
Setelah Jepang selesai membuat jalan, kemudian membuat pagar kawat berduri seluas 500 hektar yang dipasang di daerah yang dianggap rahasia dan hanya khusus serdadu Jepang yang boleh berada di dalamnya. Karena tertutupnya daerah tersebut, warga setempat waktu itu menyebutnya sebagai Daerah Tutupan.
Setelah jalan dan pagar duri selesai dibuat, barulah Jepang membangun sekitar 29 benteng pertahanan beserta lograk (parit-parit yang menghubungkan antar benteng) dengan waktu pengerjaan selama delapan bulan dengan sitem kerja siang dan malam.
Konon kisah tragis kemudian berlangsung setelah benteng pertahanan tersebut selesai dibangun. Seluruh penduduk yang berada di dekat benteng semua diusir dan harta mereka boleh dibawa. Namun rumah-rumah warga yang tidak lagi berpenghuni dibakar oleh Jepang. Proses sterilisasi dilakukan bertepatan pada 1 Syawal, sekitar pukul 10.00 WIB. Benteng Pendem di Kalimaro pernah dikunjungi oleh Ir. Soekarno beserta Sultan Hamengkubuwono IX.
Pemimpin batalion Jepang di Kalimaro saat itu bernama Oeda Soecoe. Untuk pengamanan, waktu itu di setiap tapal batas tak lepas dari penjagaan serdadu Dai Nippon yang selalu aktif berpatroli.
Setelah Jepang mengalami kekalahan di Asia Pasific, kekuasaan Jepang di Daerah koloninya satu persatu lepas, termasuk Indonesia. Pemerintah Jepang diakhir sejarah pendudukannya di Kalimaro memerintahkan tentara Dai Nippon untuk membuang semua persenjataan berat ke laut selatan dan beberapa bagian di pantai Congot.

Benteng Perekam Sejarah Pendudukan Jepang
Benteng Pendem memiliki 29 komplek yang tersebar di areal seluas 500 hektar. Delapan benteng yang tersisa hingga saat ini berbahan dari cor beton masih terlihat utuh meskipun tak terawat. Material penyusun benteng berupa campuran batu bata halus, batu kerikil, kapur polasi dan berkerangka besi.
Tebal dinding benteng mencapai 35-60 cm. Sementara 21 benteng lainnya terbuat dari bahan kayu jati gelondongan. Namun peninggalan berharga itu sudah tidak ada, karena habis dimakan rayap dan dimanfaatkan warga untuk membangun rumah warga yang telah dibakar oleh Jepang usai pembangunan benteng.
Dari 8 benteng yang tersisa, memiliki ciri khusus yakni letaknya yang berjauhan. Ukuran benteng kecil-kecil yang dihubungkan dengan selokan bernama lograk. Antara bangunan satu dengan lainnya berbeda bentuk, disesuaikan dengan fungsinya. Posisi benteng kebanyakan menghadap ke dataran yang lebih rendah ke arah laut selatan. Letaknya juga cukup strategis untuk pengintaian yaitu berada di lereng dan puncak bukit. Lokasi yang cukup tertutup membuat benteng tersebut akrab dikenal dengan Benteng Pendem. Dan benar, ketika penulis datang ke sana, banyak bangunan benteng yang hanya terlihat pintu atau lobang pengintainya saja.
Kedelapan benteng yang masih berdiri hingga saat ini, diantaranya:
Benteng Penangkis Serangan Udara Dan Pengintai Laut Selatan
Dilihat dari fungsinya, benteng tersebut dibuat untuk menangkis serangan udara dan untuk mengintai musuh yang berada di laut selatan. Komplek benteng ini memiliki satu ruangan utama selebar 3 m, panjang 4 m dan tinggi 1,2 m.
Selain itu ada ruangan kecil yang diduga sebagai tempat para opsir beristirahat dengan ukuran lebar 1 m, panjang 2 m dan tinggi 1,2 m. Terdapat juga ruangan sangat kecil yang belum diketahui fungsinya dengan lebar 0,5 m, panjang 1 m dan tinggi 1,2 m. Ruang terakhir dalam benteng tersebut yaitu sebuah ruang tertinggi yang dipergunakan untuk pengintaian dengan ukuran lebar 0,5 m, panjang 0,5 m dan tinggi 0,5 m. Sementara penghubung ruangan utama, terdapat sebuah tangga terbuat dari besi dengan diameter 3 cm.
Untuk masuk ke dalam benteng tersebut pengunjung bisa masuk dari dua pintu kecil. Ukuran pintu itu terlalu kecil sehingga menyebabkan setiap pengunjung harus merunduk jika ingin masuk. Benteng tersebut juga dilengkapi dengan lubang udara (fentilasi) berbentuk jendela ukuran kecil sebanyak empat buah.
Benteng Pusat Komunikasi
Kondisi benteng yang difungsikan sebagai pusat komunikasi tersebut saat ini hanya terlihat pintu masuk serta jendela saja karena sudah tertimbun tanah. Pengunjung yang datang juga tidak sulit untuk masuk karena kandungan oksigen cukup terbatas.
Ukuran benteng sama dengan benteng pengintai dan penangkis serangan udara, yaitu terdiri dari dari satu ruangan utama dan beberapa ruangan kecil lainnya. Diduga Jepang juga melengkapi benteng ini dengan radar serta peralatan komunikasi radio jarak jauh. Konon disinilah para perwira Jepang memperoleh informasi dari luar kawasan itu serta mendeteksi serangan musuh.
Benteng Amunisi Pemasok Persenjataan
Benteng amunisi, terdiri dari dua pintu masuk dan dua ruangan berbentuk persegi panjang. Melihat ukurannya, benteng ini terhitung paling panjang dan paling besar bila dibanding benteng lainnya. Terdapat dua pintu masuk berukuran 1 m, panjang 5 m dan tinggi 1,2 m. Masing-masing ruangannya berukuran sama yaitu lebar 2 m, pajang 6 m dan tinggi 1,2 m. Konon dua ruangan ini dipakai oleh serdadu Jepang untuk menyimpan senjata dan amunisi. Letaknya lebih tersembunyi dibanding benteng lainnya, mungkin dimaksudkan agar sulit ditemukan musuh.
Benteng Penjagaan
Benteng penjagaan sesuai fungsinya dipergunakan serdadu Jepang untuk berjaga-jaga sekaligus sebagai tempat tinggal para opsir dan perwira. Diperkirakan setiap benteng dihuni oleh kurang lebih 43 tentara Heiho. Ukuran benteng lebih kecil dibanding benteng penangkis serangan udara dan juga tanpa dilengkapi lubang pengintai. Jika dilihat dari luar hanya nampak bagian muka dengan pintu yang sempit sekali. Bahkan sebagian besar bagian benteng terpedam di dalam tanah. Benteng jenis ini yang paling banyak jumlahnya, letaknya pun berpencar dan sangat strategis, jangkauan pandang hanya sekitar 3 m.

sumber : http://bloggerkemiri.blogspot.com/2009/12/benteng-pendem-sebuah-kenangan-yang.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar